Sabtu, 24 Januari 2015

Guru yang Bermanfaat

Ibu-Guru
GURU macam apakah yang bermanfaat itu? Banyak sekolah diisi dengan guru berindeks prestasi tinggi. Namun, tak tampak gereget dan prestasi di sekolah itu. Apa yang salah dengan guru semacam itu? Apa yang bisa dibuat sekolah agar para guru bermanfaat?
Sekolah adalah lembaga pendidikan. Pendidikan adalah sebuah proses. Dinamis dan proaktif adalah prinsip pendidikan. Kemandekan penghambat utama pendidikan.
 
Prinsip dinamis dan proaktif tak hanya diterjemahkan dalam sarana. Yang lebih utama diterjemahkan kepada guru. Guru tak boleh mandek. Guru yang mandek tidak bermanfaat bagi pendidikan.
Guru mandek ketika mereka tak lagi belajar. Nihilnya karakter pembelajar membuat guru mandek. Guru yang tak lagi belajar bukan berarti inteligensinya rendah. Begitu banyak guru berinteligensi tinggi justru mandek. Mereka sudah merasa cukup, beberapa bahkan meremehkan materi pengayaan diri.
Guru berinteligensi tinggi yang nihil karakter pembelajar serupa orang yang merasa kaya dan tak butuh bantuan orang lain. Sesungguhnya orang semacam ini adalah orang yang miskin sejati.
Sejalan pemahaman ini, setinggi apa pun inteligensi guru-guru kita (yang ditandai IP tinggi) ketika mereka tak mau terus belajar, sesungguhnya kita hanya menumpuk guru-guru yang ”bodoh” tak bermanfaat. Dinamika pembelajaran pun akan mandek.
Itulah yang penulis amati di sejumlah sekolah dan yayasan besar yang memiliki sejarah hebat. Di sekolah dan yayasan semacam itu perlahan tapi pasti prestasinya merosot. Beberapa mulai ditinggalkan masyarakat.
Dalam pengenalan penulis, faktanya memang para guru dan jajaran pengurus sekolah hingga pengurus yayasan memang miskin karakter pembelajar. Setiap kali penulis menanyakan apakah sudah membaca artikel pendidikan di koran, jawabnya selalu belum. Ketika ditanyai buku apa yang sedang digulati, jawabnya tidak ada karena tak sempat lagi.
Padahal, dalam ungkapan bahasa Jawa, ”Guru: digugu dan ditiru” yang bermakna guru itu menjadi panutan dan teladan, sesungguhnya tersirat hakikat pendidikan yang mendasar.
Pendidikan tak hanya mengalihkan sejumlah informasi. Daya mendidik sesungguhnya memancar dan meresonansi dari bagaimana karakter dan cara hidup guru.
Barangkali kita perlu merenungkan gagasan Nikola Tesla (1856-1943) yang menyatakan, ”If you want to find the secrets of the universe, think in terms of energy, frequency and vibration.” Sebab, “Our entire biological system, the brain and the earth itself, work on the same frequencies.”
Tema energi, frekuensi, dan vibrasi dalam ungkapan familiar kita merujuk pada aura. Ketika para guru hidup dengan karakter pembelajar, aura yang memancar adalah aura pembelajar. Sebaliknya ketika guru merasa sudah cukup ilmu dan tak merasa perlu belajar, aura yang dipancarkan adalah aura mandek belajar.
 
Mengelola pembelajaran
Kini sadarlah kita mengapa setelah negara melipatgandakan gaji guru, prestasi pendidikan kita tak serta-merta meningkat pesat.
Di banyak sekolah, perubahan paling kentara setelah era peningkatan gaji dan ragam tunjangan adalah bertambah panjangnya deretan mobil guru yang diparkir di sekolah. Gaji yang layak memang perlu. Namun, ketika guru tak dibantu untuk merawat karakter pembelajarnya, panambahan gaji hanyalah pemborosan percuma.
Dalam hal ini kita jadi ingat gagasan Stephen R Covey tentang ”asahlah gergaji” (mengasah kemampuan diri). Guru yang efektif (baca: bermanfaat) adalah guru yang terus belajar. Terus belajar tidak hanya diintensikan untuk menambah pengetahuan dan kemampuan, tetapi juga untuk mendarahdagingkan karakter belajar. Targetnya ia merasa ada yang tidak nyaman, bahkan merasa salah jika tidak terjadi suasana-atmosfer-aura belajar.
Guru yang terus belajar itu terus berproses. Proses itu bagai reaksi kimia yang memancarkan energi karena terjadi reaksi atom.
Karena itu, sementara guru terus berkembang menjadi manusia yang sungguh-sungguh dewasa dan kaya secara rohani dengan terus belajar, ia akan semakin berarti dan bermanfaat bagi dunia pendidikan.
Maka, dalam mengelola pendidikan negara jangan terus terlena oleh pemutakhiran sarana serta peningkatan gaji dan tunjangan. Apalagi jika prinsip keadilan diabaikan. Atmosfer studi dalam kehidupan para pendidik perlu diciptakan. Studi kelompok dan diskusi ilmiah, sejak di tingkat sekolah, perlu disemarakkan.
Ketika para guru tidak lagi menjadi pembelajar, bangunan pendidikan kita bakal ambruk.

Sidharta Susila    Pendidik di Muntilan, Magelang
KOMPAS,  09 Januari 2015

Pelajaran Matematika menurut Tan Malaka

tan
Tak ada yang pernah melihat atau pun meraba bilangan Satu, Setengah, akar dua, atau bilangan lainnya. Yang mampu dilihat manusia hanyalah lambang angka yang merupakan penyajian bilangan seperti ‘1’. Sedangkan bilangan itu sendiri nirwujud.
Demikian obyek lain seperti titik di Geometri. Tak mungkin ada manusia yang mampu melihat obyek tak berdimensi ini. Manusia juga tak pernah melihat lingkaran ideal menurut matematika, karena tak mungkin ada jangka demikian sempurna dengan ujung pensil di depannya yang demikian tajam sampai mampu menggambarkan sebuah lingkaran sempurna, dengan ketebalan garis nol satuan. Karena itu, Tan Malaka mengistilahkan matematika sebagai ilmu tak bermateri. Ini satu dari dua hakikat matematika yang dipesankan Tan Malaka.Obyek matematika seperti di atas merupakan gagasan ideal yang berujud nyata senyata-nyatanya di benak manusia semata. Hanya nalar manusia yang sanggup mewujudkan tiga obyek tersebut.  Tiap terucap kata lingkaran, di benak akan tergambar lingkaran sempurna. Hanya nalar manusia yang mampu merasakan keujudan objek matematika tersebut. Bahkan, sebagian malah sampai berkeyakinan bahwa gagasan seperti bilangan, titik, dan lingkaran tadi justru lebih nyata ketimbang benda duniawi. Picasso berkata bahwa jika sesuatu dapat diimaginasikan, maka sesuatu itu nyata. Konsep bilangan negatif di matematika sejatinya lebih nyata dari kursi yang diduduki, karena bilangan negatif diimaginasikan, sedang kursi sering difungsikan, tidak diimaginasikan.
Karena ada di tataran gagasan, argumentasi matematika tak dapat dilandaskan pada suatu pengamatan kenyataan, apalagi pengalaman kehidupan tertentu berlandaskan panca indra. Akibatnya, argumen bahwa definisi perkalian harus mengikuti kebiasaan penulisan resep obat atau fenomena kehidupan lain, misalnya, sungguh bukan argumen matematika yang sahih.
Pertama dan yang utama, matematika dibangun dengan argumen yang taat berdasarkan pernalaran deduktif saja. Bahwa ada gagasan matematika yang diinspirasi oleh fenomena di alam atau di kehidupan nyata, itu benar adanya. Namun, tidak pernah ada argumen matematika yang dilandaskan pada fenomena alam. Argumen matematika tidak dapat dibuktikan oleh bahkan sejuta fenomena kehidupan. Fenomena kehidupan bagi matematika hanyalah sebuah ilustrasi tak sempurna dari gagasan matematika. Bahkan percobaan di laboratorium paling canggih pun tak akan pernah memvalidasi atau menyangkal pernyataan matematika.
Sebagai ilustrasi, di Geometri Bidang yang dipelajari anak SMP, ada pernyataan bahwa jumlah ketiga sudut dari segitiga apapun senantiasa membentuk sudut 180 derajat. Membuktikan pernyataan ini tak dapat dengan contoh, tetapi harus berdasar pernalaran deduktif semata.
Justru karena ketaatan berargumen berdasar bernalar deduktif semata itu, matematika menjadi sangat bermanfaat bagi disiplin lain dan kehidupan. Karena tak menggantungkan pada suatu fenomena kehidupan, matematika dapat dimanfaatkan saat membangun jembatan sampai menguji kejujuran pemilu. Dapat dibayangkan jika saja ada teori matematika yang argumennya didasarkan pada suatu pengukuran fenomena kimia, maka teori matematika itu hanya sah jika diterapkan di kimia saja.
Di sini paradoksnya. Karena argumennya tak tercemar dari argumentasi fenomena bidang keilmuan lain, penerapan matematika di berbagai bidang menjadi terjamin kesahihannya.
Saat ini, praktik pengajaran matematika sekolah di Indonesia masih ada yang belum sejalan dengan hakikat tersebut. Beberapa buku ajar matematika bahkan kerap menyajikan “pembuktian’ yang tak sahih. Misalnya, menuliskan kegiatan memotong sudut-sudut potongan segitiga kertas yang ditempelkan memembentuk sudut “nyaris” 180 derajat itu sebagai sebuah bukti. Ini tentu fatal, karena membuktikan pernyataan matematika berdasar fenomena alam. Sesungguhnya, kegiatan di atas hanya mengatakan dugaan: “mungkin jumlah ketiga sudut segitiga itu 180 derajat.” Tak lebih dari itu. Matematika bukan ilmu alam.
Geometri merupakan studi tentang objek yang tak dapat digambar atau gambarnya buruk. Artinya, inferensi atau kesimpulan yang dibuat tak boleh menggantungkan pada ketepatan gambar. Gambar tepat maupun buruk harus memberikan kesimpulan yang sama persis. Sebaliknya, jika segitiga kertas yang dibuat tadi sisinya tak lurus atau busur derajatnya buruk, jumlah sudut 180 derajat mungkin saja tak diperoleh.
Indra kita, misalnya penglihatan, sangat mudah tertipu ilusi. Dua garis sejajar yang diberi dekorasi khusus tertentu akan tampak tak sejajar. Dua garis yang sama panjang, tetapi ujungnya diberi gambar anak panah atau ekor panah akan tampak berbeda panjang. Ilusi penglihatan ini tak diinginkan terjadi di matematika. Oleh karenanya, argumen matematika tak boleh berdasar panca indra.
Matematika tak mempercayai panca indra, tetapi hanya mempercayai “indra” nalar deduktif. Bahkan, ekstremnya, seorang tuna netra pun tetap mampu “melihat” dengan jelas, meyakini, dan menikmati indahnya Dalil Pitagoras. Ini setali tiga uang dengan Beethoven yang dapat tetap dapat “mendengar” musik melalui “telinga” nalarnya, walaupun sudah tuna rungu.
Pernalaran manusia yang terekam dalam gagasan matematika dan juga partitur musik bersifat abadi. Seperti kata Einstein, nalar manusia yang mewujud menjadi persamaan atau kalimat matematika akan abadi. Dari torehan Archimedes sampai tulisan Ramanujan telah membangun peradaban kemanusiaan yang menembus batas ruang dan waktu. Nalar manusia yang mampu menggambarkan ruang dimensi 4, bahkan sampai meyakininya bahwa ruang berdimensi 4 itu senyata-nyatanya seperti kursi yang kita duduki.
Lalu apakah guru matematika SD, misalnya, harus memahami gagasan matematika seperti di atas? Tentu. Kemudian, apakah guru SD harus mampu membuktikan semua pernyataan di matematika SD serta menikmati proses pembuktiannya? Idealnya ya, namun jika memang belum mampu,guru dapat mengatakan, “Mari kita cari dan pelajari sama-sama.” Tidak tabu bagi seorang guru matematika untuk berkata belum tahu. Guru di jaman sekarang tak mungkin dapat menjawab semua pertanyaan. Dan juga, memang bukan tugas guru untuk menjawab semua pertanyaan.
Baiknya, guru bersama murid mencoba membuktikan sendiri, atau jika tetap tak berhasil, dapat mencarinya di Internet. Banyak bukti indah tersedia. Dari sudut pembelajaran matematika, diskusi tentang bukti-bukti indah itu akan memicu kasmaran bermatematika. Citra pembelajaran seperti ini jauh berbeda dari matematika prosedural, dogmatik, kaku, dan formalistik yang kerap dipertontonkan di pengajaran dan buku ajar sekolah hari ini.
Untuk itu, perlu ditingkatkan program perlatihan guru guna meremajakan gagasan matematika sebagai ilmu tak bermateri dan menciptakan kegiatan bagi guru agar mengalami kembali asyiknya membuktikan pernyataan matematika. Ini sejalan dengan angan-angan Tan Malaka di Madilog.
Guru perlu merasakan kembali kejujuran bahwa belum memahami dan juga keluguan mempertanyakan kesahihan Dalil Pitagoras sampai Ketaksamaan Segitiga. Ini tantangan perbaikan pembelajaran matematika yang belum pernah secara sungguh-sungguh diupayakan oleh pemerintah-pemerintah sebelumnya.
Iwan Pranoto    Dosen dan Guru Besar Matematika ITB;
Kini juga bekerja di KBRI New Delhi, India
SATU HARAPAN,  15 Desember 2014
Dilema Kurikulum 2013

K13
17 Desember 2014   ARTIKEL PENDIDIKAN, GENERAL, KURIKULUM 2013, SERTIFIKASI GURU
Share on facebookShare on twitterShare on emailShare on pinterest_shareMore Sharing Services
2
PADA ”hari ulang tahunnya” yang kedua, Kurikulum 2013 akhirnya dievaluasi.
Sudah diputuskan mulai tahun depan, untuk sementara, Kurikulum 2013 hanya akan diterapkan di 6.221 sekolah yang sejak Juli 2013 sudah menjalani uji coba. Sisanya kembali ke Kurikulum 2006 sampai betul-betul siap. A win-win solution.
Keputusan di pengujung tahun ajaran ini tak mudah karena akan mengubah seluruh proses pembelajaran di sekolah. Namun, menurut tim evaluasi Kurikulum 2013 atau sering disingkat K-13, keputusan ini pilihan kompromis mengakomodasi pandangan pro dan kontra mengenai K-13, meski ini kemudian dikoreksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. ”Ini bukan masalah kompromi. Ini demi kepentingan anak bangsa kita.”Ada tiga pilihan dari tim evaluasi K-13. Pertama, penghentian total K-13. Kedua, sekolah yang sudah tidak bermasalah dengan K-13 silakan lanjut, tetapi sekolah yang belum silakan kembali ke Kurikulum 2006. Ketiga, tetap jalan seperti sekarang untuk semua sekolah, tetapi dengan evaluasi kekurangan. Pilihan jatuh pada penghentian K-13 di semua sekolah dan konsentrasi hanya pada 6.221 sekolah.
Pilihan ini memunculkan pertanyaan lanjutan. Jika ada sebagian sekolah memakai K-13 dan sebagian lagi pakai Kurikulum 2006, lalu bagaimana dengan proses evaluasi hasil belajar murid? Standar evaluasi seperti apa yang dibutuhkan? Apakah ujian nasional masih relevan dengan duo kurikulum yang ada? Masalah-masalah ini barangkali masih dibahas tim evaluasi K-13.
Bagi yang mengikuti perkembangan K-13 dan melaksanakannya di lapangan, selama satu tahun terakhir ini implementasi K-13 diwarnai keluh kesah dan protes di mana-mana. Utamanya, pada masalah ketidaksiapan guru dan ketiadaan buku pegangan.
Ketidaksiapan guru karena pelatihan terlalu singkat dan kurang praktik lebih mirip penataran. Ketiadaan buku pegangan urusannya lebih pelik karena terkait dengan pihak ketiga, yakni penyedia buku atau percetakan. Intinya, segala keruwetan pada implementasi bermula karena serba terburu-buru.
Nasi belum terlalu jadi bubur. Masih ada waktu memperbaiki atau menyempurnakan K-13. Butuh solusi konkret dan cepat dari Kemendikbud. Sudahi saja dulu sikap menyalahkan pemerintahan sebelumnya. Tak perlu juga membongkar semua kebijakan Mendikbud sebelumnya. Lanjutkan saja yang bagus dan perbaiki yang masih kurang. Butuh gerak cepat karena waktu tak banyak.
Mau ke mana?
Mumpung sedang dievaluasi, ada baiknya pemerintah sekalian menyempurnakan K-13, dari awal. Itu dimulai dengan gagasan atau cita-cita harapan arah pembangunan bangsa dan ”wujud” generasi yang hendak dilahirkan untuk mencapai harapan itu. Jika hal mendasar itu sudah jelas dan rencana pembangunan jangka pendek, menengah, dan panjang juga terang, akan jelas pula jenis kurikulum yang dibutuhkan.
Pada dasarnya, kurikulum dibuat sesuai perkembangan zaman. Ini setidaknya sudah dilakukan dalam K-13. Teorinya, K-13 menekankan pembelajaran aktif dengan materi tematik integratif dan pendekatan ilmiah.
Dalam dua tahun terakhir, sebagian guru, terutama di kota, mengakui anak-anak lebih senang belajar dengan cara ini karena tidak membosankan. Suasana kelas menjadi lebih hidup. Namun, sebagian guru masih kesulitan karena belum terbiasa.
Guru
Guru-guru yang ada di Karawang dan Pandeglang yang relatif dekat dengan ibu kota Jakarta saja masih terbata-bata dalam mengajar. Pelatihan 52 jam tak cukup. Perlu pelatihan lanjutan yang disesuaikan dengan kelemahan guru masing-masing.
Pelatihan model ini sudah masuk dalam agenda rencana Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemendikbud. Berbekal hasil uji kompetensi guru yang dilakukan 2-3 tahun lalu, setiap guru dijanjikan akan mendapat pelatihan yang didesain khusus sesuai kebutuhan dan yang menjadi titik lemah setiap guru. Catatan atau rapor guru ini sudah ada di Kemendikbud dan tinggal ditindaklanjuti saja.
Guru merasa belum bisa itu wajar karena bentuk pelatihan guru dinilai oleh pelatih guru Itje Chodidjah terlalu sederhana dan ”seragam” tanpa memerhatikan perbedaan kualitas guru, murid, sekolah, dan tradisi atau kekayaan lokal. Guru tidak dilatih cara mengelola ruang kelas sesuai jenis sekolahnya. Pelatihan guru yang ideal seharusnya kontekstual sesuai karakter daerah meski materinya sama. ”Ingat lho, kondisi dan latar belakang guru itu berbeda-beda,” ujarnya.Pelatihan yang benar disertai pendampingan materi dan cara mengajar yang rutin lambat laun akan bisa mengubah pola pikir guru. Sudah bukan zamannya lagi guru yang kaku. Masalahnya, menurut Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Sunaryo Kartadinata, sejauh ini belum ada model pelatihan yang mampu mengubah pola pikir guru. Ini bisa diperbaiki sambil jalan dan sekaligus solusi jangka panjang seperti memperbaiki ”pabrik guru”, yakni lembaga pendidikan tenaga kependidikan.

Persoalan pendidikan tak akan pernah habis. Dengan terbatasnya waktu, kita harus bergegas menentukan prioritas dan bergerak. Saatnya menyingsingkan lengan baju dan bekerja. Anak-anak bangsa ini menanti karya nyata.
Dilema Kurikulum 2013

K13
17 Desember 2014   ARTIKEL PENDIDIKAN, GENERAL, KURIKULUM 2013, SERTIFIKASI GURU
Share on facebookShare on twitterShare on emailShare on pinterest_shareMore Sharing Services
2
PADA ”hari ulang tahunnya” yang kedua, Kurikulum 2013 akhirnya dievaluasi.
Sudah diputuskan mulai tahun depan, untuk sementara, Kurikulum 2013 hanya akan diterapkan di 6.221 sekolah yang sejak Juli 2013 sudah menjalani uji coba. Sisanya kembali ke Kurikulum 2006 sampai betul-betul siap. A win-win solution.
Keputusan di pengujung tahun ajaran ini tak mudah karena akan mengubah seluruh proses pembelajaran di sekolah. Namun, menurut tim evaluasi Kurikulum 2013 atau sering disingkat K-13, keputusan ini pilihan kompromis mengakomodasi pandangan pro dan kontra mengenai K-13, meski ini kemudian dikoreksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. ”Ini bukan masalah kompromi. Ini demi kepentingan anak bangsa kita.”Ada tiga pilihan dari tim evaluasi K-13. Pertama, penghentian total K-13. Kedua, sekolah yang sudah tidak bermasalah dengan K-13 silakan lanjut, tetapi sekolah yang belum silakan kembali ke Kurikulum 2006. Ketiga, tetap jalan seperti sekarang untuk semua sekolah, tetapi dengan evaluasi kekurangan. Pilihan jatuh pada penghentian K-13 di semua sekolah dan konsentrasi hanya pada 6.221 sekolah.
Pilihan ini memunculkan pertanyaan lanjutan. Jika ada sebagian sekolah memakai K-13 dan sebagian lagi pakai Kurikulum 2006, lalu bagaimana dengan proses evaluasi hasil belajar murid? Standar evaluasi seperti apa yang dibutuhkan? Apakah ujian nasional masih relevan dengan duo kurikulum yang ada? Masalah-masalah ini barangkali masih dibahas tim evaluasi K-13.
Bagi yang mengikuti perkembangan K-13 dan melaksanakannya di lapangan, selama satu tahun terakhir ini implementasi K-13 diwarnai keluh kesah dan protes di mana-mana. Utamanya, pada masalah ketidaksiapan guru dan ketiadaan buku pegangan.
Ketidaksiapan guru karena pelatihan terlalu singkat dan kurang praktik lebih mirip penataran. Ketiadaan buku pegangan urusannya lebih pelik karena terkait dengan pihak ketiga, yakni penyedia buku atau percetakan. Intinya, segala keruwetan pada implementasi bermula karena serba terburu-buru.
Nasi belum terlalu jadi bubur. Masih ada waktu memperbaiki atau menyempurnakan K-13. Butuh solusi konkret dan cepat dari Kemendikbud. Sudahi saja dulu sikap menyalahkan pemerintahan sebelumnya. Tak perlu juga membongkar semua kebijakan Mendikbud sebelumnya. Lanjutkan saja yang bagus dan perbaiki yang masih kurang. Butuh gerak cepat karena waktu tak banyak.
Mau ke mana?
Mumpung sedang dievaluasi, ada baiknya pemerintah sekalian menyempurnakan K-13, dari awal. Itu dimulai dengan gagasan atau cita-cita harapan arah pembangunan bangsa dan ”wujud” generasi yang hendak dilahirkan untuk mencapai harapan itu. Jika hal mendasar itu sudah jelas dan rencana pembangunan jangka pendek, menengah, dan panjang juga terang, akan jelas pula jenis kurikulum yang dibutuhkan.
Pada dasarnya, kurikulum dibuat sesuai perkembangan zaman. Ini setidaknya sudah dilakukan dalam K-13. Teorinya, K-13 menekankan pembelajaran aktif dengan materi tematik integratif dan pendekatan ilmiah.
Dalam dua tahun terakhir, sebagian guru, terutama di kota, mengakui anak-anak lebih senang belajar dengan cara ini karena tidak membosankan. Suasana kelas menjadi lebih hidup. Namun, sebagian guru masih kesulitan karena belum terbiasa.
Guru
Guru-guru yang ada di Karawang dan Pandeglang yang relatif dekat dengan ibu kota Jakarta saja masih terbata-bata dalam mengajar. Pelatihan 52 jam tak cukup. Perlu pelatihan lanjutan yang disesuaikan dengan kelemahan guru masing-masing.
Pelatihan model ini sudah masuk dalam agenda rencana Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemendikbud. Berbekal hasil uji kompetensi guru yang dilakukan 2-3 tahun lalu, setiap guru dijanjikan akan mendapat pelatihan yang didesain khusus sesuai kebutuhan dan yang menjadi titik lemah setiap guru. Catatan atau rapor guru ini sudah ada di Kemendikbud dan tinggal ditindaklanjuti saja.
Guru merasa belum bisa itu wajar karena bentuk pelatihan guru dinilai oleh pelatih guru Itje Chodidjah terlalu sederhana dan ”seragam” tanpa memerhatikan perbedaan kualitas guru, murid, sekolah, dan tradisi atau kekayaan lokal. Guru tidak dilatih cara mengelola ruang kelas sesuai jenis sekolahnya. Pelatihan guru yang ideal seharusnya kontekstual sesuai karakter daerah meski materinya sama. ”Ingat lho, kondisi dan latar belakang guru itu berbeda-beda,” ujarnya.Pelatihan yang benar disertai pendampingan materi dan cara mengajar yang rutin lambat laun akan bisa mengubah pola pikir guru. Sudah bukan zamannya lagi guru yang kaku. Masalahnya, menurut Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Sunaryo Kartadinata, sejauh ini belum ada model pelatihan yang mampu mengubah pola pikir guru. Ini bisa diperbaiki sambil jalan dan sekaligus solusi jangka panjang seperti memperbaiki ”pabrik guru”, yakni lembaga pendidikan tenaga kependidikan.

Persoalan pendidikan tak akan pernah habis. Dengan terbatasnya waktu, kita harus bergegas menentukan prioritas dan bergerak. Saatnya menyingsingkan lengan baju dan bekerja. Anak-anak bangsa ini menanti karya nyata.

Dilema Kurikulum 2013

K13
PADA ”hari ulang tahunnya” yang kedua, Kurikulum 2013 akhirnya dievaluasi.
Sudah diputuskan mulai tahun depan, untuk sementara, Kurikulum 2013 hanya akan diterapkan di 6.221 sekolah yang sejak Juli 2013 sudah menjalani uji coba. Sisanya kembali ke Kurikulum 2006 sampai betul-betul siap. A win-win solution.
Keputusan di pengujung tahun ajaran ini tak mudah karena akan mengubah seluruh proses pembelajaran di sekolah. Namun, menurut tim evaluasi Kurikulum 2013 atau sering disingkat K-13, keputusan ini pilihan kompromis mengakomodasi pandangan pro dan kontra mengenai K-13, meski ini kemudian dikoreksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. ”Ini bukan masalah kompromi. Ini demi kepentingan anak bangsa kita.”Ada tiga pilihan dari tim evaluasi K-13. Pertama, penghentian total K-13. Kedua, sekolah yang sudah tidak bermasalah dengan K-13 silakan lanjut, tetapi sekolah yang belum silakan kembali ke Kurikulum 2006. Ketiga, tetap jalan seperti sekarang untuk semua sekolah, tetapi dengan evaluasi kekurangan. Pilihan jatuh pada penghentian K-13 di semua sekolah dan konsentrasi hanya pada 6.221 sekolah.
Pilihan ini memunculkan pertanyaan lanjutan. Jika ada sebagian sekolah memakai K-13 dan sebagian lagi pakai Kurikulum 2006, lalu bagaimana dengan proses evaluasi hasil belajar murid? Standar evaluasi seperti apa yang dibutuhkan? Apakah ujian nasional masih relevan dengan duo kurikulum yang ada? Masalah-masalah ini barangkali masih dibahas tim evaluasi K-13.
Bagi yang mengikuti perkembangan K-13 dan melaksanakannya di lapangan, selama satu tahun terakhir ini implementasi K-13 diwarnai keluh kesah dan protes di mana-mana. Utamanya, pada masalah ketidaksiapan guru dan ketiadaan buku pegangan.
Ketidaksiapan guru karena pelatihan terlalu singkat dan kurang praktik lebih mirip penataran. Ketiadaan buku pegangan urusannya lebih pelik karena terkait dengan pihak ketiga, yakni penyedia buku atau percetakan. Intinya, segala keruwetan pada implementasi bermula karena serba terburu-buru.
Nasi belum terlalu jadi bubur. Masih ada waktu memperbaiki atau menyempurnakan K-13. Butuh solusi konkret dan cepat dari Kemendikbud. Sudahi saja dulu sikap menyalahkan pemerintahan sebelumnya. Tak perlu juga membongkar semua kebijakan Mendikbud sebelumnya. Lanjutkan saja yang bagus dan perbaiki yang masih kurang. Butuh gerak cepat karena waktu tak banyak.
Mau ke mana?
Mumpung sedang dievaluasi, ada baiknya pemerintah sekalian menyempurnakan K-13, dari awal. Itu dimulai dengan gagasan atau cita-cita harapan arah pembangunan bangsa dan ”wujud” generasi yang hendak dilahirkan untuk mencapai harapan itu. Jika hal mendasar itu sudah jelas dan rencana pembangunan jangka pendek, menengah, dan panjang juga terang, akan jelas pula jenis kurikulum yang dibutuhkan.
Pada dasarnya, kurikulum dibuat sesuai perkembangan zaman. Ini setidaknya sudah dilakukan dalam K-13. Teorinya, K-13 menekankan pembelajaran aktif dengan materi tematik integratif dan pendekatan ilmiah.
Dalam dua tahun terakhir, sebagian guru, terutama di kota, mengakui anak-anak lebih senang belajar dengan cara ini karena tidak membosankan. Suasana kelas menjadi lebih hidup. Namun, sebagian guru masih kesulitan karena belum terbiasa.
Guru
Guru-guru yang ada di Karawang dan Pandeglang yang relatif dekat dengan ibu kota Jakarta saja masih terbata-bata dalam mengajar. Pelatihan 52 jam tak cukup. Perlu pelatihan lanjutan yang disesuaikan dengan kelemahan guru masing-masing.
Pelatihan model ini sudah masuk dalam agenda rencana Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemendikbud. Berbekal hasil uji kompetensi guru yang dilakukan 2-3 tahun lalu, setiap guru dijanjikan akan mendapat pelatihan yang didesain khusus sesuai kebutuhan dan yang menjadi titik lemah setiap guru. Catatan atau rapor guru ini sudah ada di Kemendikbud dan tinggal ditindaklanjuti saja.
Guru merasa belum bisa itu wajar karena bentuk pelatihan guru dinilai oleh pelatih guru Itje Chodidjah terlalu sederhana dan ”seragam” tanpa memerhatikan perbedaan kualitas guru, murid, sekolah, dan tradisi atau kekayaan lokal. Guru tidak dilatih cara mengelola ruang kelas sesuai jenis sekolahnya. Pelatihan guru yang ideal seharusnya kontekstual sesuai karakter daerah meski materinya sama. ”Ingat lho, kondisi dan latar belakang guru itu berbeda-beda,” ujarnya.Pelatihan yang benar disertai pendampingan materi dan cara mengajar yang rutin lambat laun akan bisa mengubah pola pikir guru. Sudah bukan zamannya lagi guru yang kaku. Masalahnya, menurut Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Sunaryo Kartadinata, sejauh ini belum ada model pelatihan yang mampu mengubah pola pikir guru. Ini bisa diperbaiki sambil jalan dan sekaligus solusi jangka panjang seperti memperbaiki ”pabrik guru”, yakni lembaga pendidikan tenaga kependidikan.
Persoalan pendidikan tak akan pernah habis. Dengan terbatasnya waktu, kita harus bergegas menentukan prioritas dan bergerak. Saatnya menyingsingkan lengan baju dan bekerja. Anak-anak bangsa ini menanti karya nyata.

Hubungan Televisi dan Pendidikan

televisipend
LITERATUR tentang fungsi media senantiasa mengetengahkan bahwa fungsi media ialah informasi, hiburan, dan pendidikan. Media cetak pada umumnya lebih memberikan penekanan pada fungsi informasi dan hiburan, sedangkan televisi (TV) lebih cenderung mengedepankan fungsi hiburan dan informasi, sementara itu, fungsi pendidikan bagi TV cenderung diposisikan sebagai unsur pelengkap. Mengapa demikian?
Apakah karena pengelola stasiun TV tidak menyadari tanggung jawab sosial mereka kepada pemirsa? Ataukah karena fungsi pendidikan dianggap merupakan tanggung jawab utama keluarga dan sekolah? Padahal, kita tahu bahwa apa pun yang disiarkan TV, sadar atau tidak, dimaksudkan atau tidak, akan senantiasa menyosialisasikan nilai-nilai sosial-budaya tertentu dan berdampak pada pemirsa.
Tidak jarang orang menuduh siaran TV menjadi biang keladi perilaku sosial menyimpang yang terjadi di masyarakat. Padahal, mungkin saja terjadi saat dilakukan survei menyangkut pengaruh siaran TV pada pemirsa, ternyata tindakan yang dilakukan responden, independen dari siaran TV. Artinya, responden tidak menyaksikan siaran TV dan tindakannya dijalankan secara spontan tanpa ada kaitannya dengan siaran TV.
Belum lagi kalau kita menelaah lebih jauh penelitian tentang hubungan antara tayangan kekerasan di TV (TV violence) dan perilaku kekerasan aktual di masyarakat, ternyata hasilnya menunjukkan penyebab kekerasan di masyarakat ialah faktor struktural (kesenjangan sosial-ekonomis, lingkungan, dan sebagainya). Tayangan kekerasan di TV bukan sebagai penyebab terjadinya kekerasan di masyarakat, melainkan sebagai faktor yang memperkuat atau mengukuhkan nilai kekerasan yang sudah ada (Joseph Klapper, 1967). Di satu sisi, saat TV menayangkan peristiwa kekerasan di masyarakat, niatnya membuat masyarakat waspada terhadap kemungkinan tindakan kekerasan yang ada di lingkungan sosial. Namun saat frekuensi penayangan tindakan kekerasan menjadi berlebihan, niat mendidik masyarakat malah berbalik membuat masyarakat menjadi takut dan waswas. Di lain pihak, penayangan tindak kekerasan yang berlebihan akan menimbulkan pula dampak psikologis dalam bentuk desensitizing process (proses kehilangan kepekaan akibat tindakan yang sebenarnya luar biasa, malah dianggap normal karena terlalu sering disaksikan).
Dalam kondisi di saat TV dihadapkan pada dikotomi antara tayangan mendidik dan tidak mendidik, stasiun TV akan cenderung berdalih dengan mengatakan apa pun program yang ditayangkan senantiasa memiliki dampak yang diniatkan (intended consequences) dan dampak yang tidak direncanakan (unintended consequences).
Niat program TV senantiasa baik, tetapi pemirsa akan menilai kualitas sebuah tayangan sesuai dengan persepsi masingmasing yang memang pada dasarnya sudah berbeda. Sebagai ilustrasi, saat stasiun TV mengampanyekan pemberantasan HIV/ AIDS dengan sosialisasi penggunaan kondom (niat baik), pesan TV malah dituduh mendorong praktik seks bebas melalui pemanfaatan kondom (dampak buruk).
 
Sikap proaktif
Dalam dilema semacam ini, tidak banyak pihak yang dapat melihat secara
propor sional sejauh mana sebenarnya TV dapat berperan dalam proses pendidikan. Fungsi pendidikan dilekatkan pada mass media (termasuk TV) karena posisi media sebagai lembaga pendidikan informal. Dalam pendidikan formal, di rumah dan sekolah, nilai-nilai pendidikan disampaikan melalui proses yang interaktif dan dialogis.
Melalui lembaga pendidikan informal yang dijalankan mass media, nilai-nilai pendidikan disisipkan melalui tayangan yang disajikan dalam proses yang monologis. Masalah apakah pemirsa mengerti pesanpesan pendidikan yang diselipkan melalui tayangan TV ataupun apakah mereka memperoleh manfaat pembelajaran, akan bergantung pada persepsi setiap pemirsa.
Setiap pembahasan mengenai mendidik tidaknya tayangan TV pada pemirsa akan sangat bergantung pada sikap proaktif pemirsa untuk memilih dan memilah, antara nilai positif mana yang perlu diinternalisasi untuk kemudian diadopsi dan nilai negatif mana yang perlu diabaikan.
Cara TV menjalankan fungsi pendidikan tidak mungkin dilakukan dengan cara yang linear. Jika hal tersebut dijalankan, mungkin akan membosankan. Nilai pendidikan disampaikan melalui penampilan pesanpesan yang kontras bahkan kontroversial.Kebaikan dikontraskan dengan kejahatan, kecerdasan akan dipertentangkan dengan kebodohan, kepolosan dengan keculasan, bahkan kekerasan dengan kasih. Masalah etika akan timbul, dan dengan sendirinya peran pendidikan akan dipermasalahkan manakala penyampaian pesan dilakukan dengan cara yang tidak proporsional. Atau manakala, nilai-nilai (values) yang negatif memperoleh legitimasi dalam bentuk pembenaran. Tema bahwa kebaikan mengalahkan kebatilan, kejujuran menundukkan kecurangan dan seterusnya, tetap harus dipertahankan dan dijaga sebagai pesan moral.
Panggilan medium TV memang untuk menghibur pemirsa karena jika tayangan tidak menghibur, tentu akan kehilangan pemirsa. Jumlah pemirsa yang tecermin pada rating itulah yang dijual pada agensi untuk menghadirkan iklan, yang pada gilirannya akan memberikan keuntungan ekonomis agar stasiun TV tetap eksis. Logika instrumental bisnis TV memang mencari untung, tetapi logika ideal operasional TV ialah melayani pemirsa dengan tayangan yang menghibur dan sejauh mungkin mendidik.
Jika di sana-sini masih terjadi benturan antara fungsi hiburan dan pendidikan, patut dipahami bahwa pengelola stasiun TV masih berusaha mencari `format yang pas’. Dalam situasi ini, pemirsa juga diminta menyadari bahwa dalam menjalankan fungsi pendidikan, mass media, termasuk TV, tidak mungkin mengganti peran rumah tangga apalagi sekolah. Posisi mass media sekadar melengkapi peran lembaga pendidikan yang sudah ada.
Suryani Zaini    Anggota Dewan Redaksi Indosiar dan SCTV
MEDIA INDONESIA,  10 Januari 2015

5 Cara Sederhana Mempercepat Metabolisme Tubuh

Sebarkan artikel iniShare on Facebook3Tweet about this on Twitter1Share on Google+0
mempercepat metabolisme tubuhTidak semua orang memiliki metabolisme yang baik. Sebagian orang ada yang metabolismenya lambat, dan hal ini bisa juga disebabkan karena faktor genetik. Namun demikian bukan berarti masalah tersebut tidak bisa diatasi. Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa tubuh sebenarnya bisa ‘dikelabui’ untuk membakar kalori dengan lebih efisien, khususnya ketika anda berolahraga.
Proses metabolisme adalah hal yang penting bagi tubuh. Pada saat metabolisme, beberapa zat dipecah sehingga menghasilkan energi bagi proses vital. Sementara zat lain yang dibutuhkan untuk hidup akan disintesis. Proses kimia ini dinilai penting untuk menghasilkan energi dan zat yang dibutuhkan untuk mempertahankan hidup.

Cara Sederhana Mempercepat Metabolisme Tubuh

Ada beberapa cara sederhana untuk mempercepat metabolisme tubuh di pagi hari, diantaranya adalah :
Berolahraga
Berolahraga akan mempercepat metabolisme serta membakar kalori lebih banyak. Aktivitas ini adalah pilihan hidup sehat sepanjang hari. Ketika tidak beraktivitas, tubuh cenderung menginginkan makanan-makanan manis yang tinggi kalori.
Makan Apel
Sebuah apel tiap pagi juga dapat membantu mempercepat metabolisme tubuh. Hal ini karena apel kaya akan pektin yang dapat mendorong proses metabolisme. Makan buah apel sebaiknya juga dilakukan sebelum berolahraga agar tubuh mendapatkan energi dan mencegah rasa lapar.
Minum air putih
Minum dua gelas air di pagi hari sebelum beraktivitas sangat baik untuk membersihkan tubuh dari racun danmeningkatkan metabolisme tubuh. Terapkan hal ini setiap harinya dan jadikan bagian dari gaya hidup sehat sehari-hari agar metabolisme tubuh anda menjadi lebih baik.
Minum jus sayuran
Jus dinilai sangat membantu meningkatkan metabolisme tubuh Beberapa sayuran hijau, buah-buahan, dan biji-bijian tertentu, yang kemudian dicampur dengan air kelapa, dapat menjadi sebuah minuman jus yang menyegarkan. Jus sayuran dapat membantu melengkapi nutrisi tubuh, menjadi sumber energi, dan meningkatkan metabolisme tubuh.
Regangkan otot-otot
Saat sampai di kantor atau tempat kerja, regangkan otot-otot anda dan tariklah napas dalam-dalam. Hanya dengan meregangkan lengan di atas kepala, sedikit memutar lengan, dan menarik napas dalam-dalam dapat melepaskan ketegangan serta membakar sejumlah kalori. Hal ini pada akhirnya akan mempengaruhi metabolisme tubuh anda.


via Tempo | image : uweightloss.com